Kapribaden di sini tidak sama dengan istilah umum Kepribadian yang dalam ilmu psikologi disebut personality.

Kapribaden di sini merupakan sebuah laku spiritual dengan memulai mengenal diri sendiri sebagai manusia. Tujuannya dengan mengenal diri sendiri yang sebenarnya lebih dulu barulah akan bisa mengenal Tuhan Yang Maha Esa (Allah, God Almighty, Gusti Ingkang Moho Suci, atau apapun disebutNYA).

MANUSIA

Manusia pada garis besarnya terdiri dari 2 bagian, yaitu Raga (badan, body) dan roh (sukma, nyawa, spirit, geest, urip atau sebutan lain).

Raga manusia terbentuk dari 4 unsur alam, yaitu tanah, air, hawa dan api. Buktinya manusia tanpa tanah (makanan) pasti mati, tanpa air juga mati, tanpa hawa (bernafas) mati pula dan tanpa api (panas matahari) juga mati.

Keempat unsur tadi dikonsumsi Bapak menghasilkan Mani, dikonsumsi Ibu menghasilkan sel telur.

Pertemuan mani dan telur di dalam rahim Ibu (atau tabung) akhirnya berkembang di dalam rahim kalau ada roh (urip) yang memasukinya. Tanpa urip tidak jadi.

Pertumbuhan dalam rahim tersusun dalam 7 lapis, yaitu 1) Rambut, 2) Kulit, 3) Daging (ilmiah disebut Otot), 4) Otot (ilmiah disebut Saraf, saraf pusat / otak sampai perifer), 5) Tulang, 6) Sumsum, 7) Darah.

Karena itulah maka angka 7 menjadi penting dalam berbagai ritual, yang sebenarnya merupakan lambang dari 7 lapis raga atau badan kita.

Segala yang berkaitan dengan 7 lapis raga itu di Kapribaden digolongkan ragawi. Jadi kerjanya otak seperti logika, ratio, emosi, alam bawah sadar, memori, digolongkan ragawi.

Itu raga atau badan manusia.

Kapribaden meyakini bahwa roh atau urip berasal dari URIP yang Maha Besar yang meliputi, mengadakan, menggerakkan seluruh alam semesta seisinya (jagad royo saisiné), yang disebut Tuhan, Allah, Gusti Ingkang Moho Suci.

LAKU ” KAPRIBADEN

Setelah tahu bahwa diri kita sebagai manusia seperti sudah disebutkan, manusia tidak cukup hanya percaya bahwa di dalam dirinya ada roh, urip.

Manusia dikenalkan dengan uripnya, sampai bisa merasakan sendiri bahwa urip atau roh itu memang ada.

Untuk bisa membuktikan dan merasakan sendiri bahwa urip atau roh di dalam dirinya memang ada, orang yang berminat minta diberi KUNCI-nya urip. Siapapun yang meminta dengan sungguh-sungguh akan diberi, tanpa syarat apapun. Tinggal datang ke salah satu warga Kapribaden, dengan tujuan kedatangannya khusus meminta penjelasan. Kalau sesudah diberi penjelasan direnungkan dulu. Kalau kemudian memang merasa pas, silahkan datang khusus untuk meminta KUNCI.

Selanjutnya gunakan KUNCI itu dengan sungguh-sungguh. Jangan percaya tetapi jalani dan buktikan sendiri. Kita akan selalu dituntun, diberi petunjuk oleh urip kita dalam menjalani kehidupan dan penghidupan sehari-hari. Kalau tidak mendapat bukti dalam kehidupan dan penghidupan sehari-hari, jangan diteruskan. Tidak ada resiko apapun kalau berhenti.

Kalau memang sudah yakin karena membuktikan dan merasakan sendiri, silahkan meminta kelanjutannya.

Badan atau Raga kita sejak lahir diberi nama oleh orang tua kita. Karena orang tua kita tidak bisa mengetahui adanya urip atau roh dalam diri kita. Maka urip kita tidak diberi nama.

Kelanjutan dari diberikannya KUNCI adalah urip kita diberi nama, yang disebut ASMO.

Kalau baru mendapat KUNCI raga diberi tuntunan dan petunjuk urip (satu arah), maka sesudah uripnya diberi ASMO, kita bisa MIJIL (menyatukan atau menyambungkan raga dengan urip) sehingga Raga mau berbuat apa saja bisa bertanya dulu kepada urip. Selanjutnya tinggal menurut dan menuruti segala kehendaknya urip. Akal Pikiran dan lain-lain kerjanya panca Indera dan Otak hanya menjadi alat, tidak lagi menjadi penguasa bagi diri kita.

Urip berasal dari Tuhan, maka menurut dan menuruti urip tidak bisa jelek, tidak bisa salah. Yang bisa jelek dan salah adalah manusianya.

Kita semua ini berasal dari YANG SATU, YANG ESA. Urip kita semua sama, yang berbeda bajunya urip yaitu raga kita.

Raga (termasuk otak) sebagai bajunya urip berbeda-beda, seperti baju kita yang berbeda merknya, berbeda warnanya, berbeda coraknya, berbeda potonganya, berbeda jahitannya, modelnya dan sebagainya. Demikian juga raga kita. Tetapi sebenarnya kita sama.

Untuk bisa menjalani semua itu dengan lancar, badan kita harus selalu dibersihkan.

Pencuci raga bukan sabun, shampo, tetapi laku Sabar (seperti seorang Ibu mengandung), Narimo (berusaha semaksimal mungkin tetapi apa dan berapa hasilnya, serahkan kepada kehendak Tuhan atas diri kita), Mengalah (bisa ikut merasakan senangnya orang yang dikalahi. Hanya orang menang yang bisa mengalah), Cinta Kasih kepada apa dan siapa saja (benda, pekerjaan, tanaman, binatang, apalagi sesama manusia harus kita cintai), Ikhlas (setiap saat merasa tidak punya apa-apa (isteri/suami, anak, derajat-pangkat, harta-benda, ketenaran nama, kepandaian, pengalaman, semuanya hanya titipan Tuhan. Jadi setiap saat siap digunakan sesuai kehendak Tuhan).

UNTUK APA MENJALANI LAKU KAPRIBADEN ?

Kalau benar-benar mau menurut dan menuruti karsanya Urip, maka dalam kehidupan dan penghidupan sehari-hari kita akan selamat dan tentrem diayomi oleh Urip.
Dan kalau sewaktu-waktu kita mati, raga akan segera lebur kembali ke asalnya, yaitu tanah, air, hawa dan api, sedang urip (roh) kita akan langsung manunggal dengan Tuhan (mencapai Kasampurnan Jati), tidak gentayangan (nglambrang) di alam antara (apapun disebutnya).

Tidak akan muat seluruh laku Kapribaden dituliskan di sini. Tetapi itulah inti dari Kapribaden.

Kapribaden tidak membeda-bedakan manusia dari segi apapun, (derajat-pangkat, kekayaan, status sosial, suku, bangsa, budaya, agama dan lain-lain).

Jangan diterima salah bahwa ini merupakan promosi. Di Kapribaden promosi tidak dibenarkan.
Ini hanya untuk memberikan gambaran, APA KAPRIBADEN ITU.

Akhirnya semoga kita semua selalu bisa menerima petunjuk Tuhan, mau dan berani melaksanakan, agar kita bisa senantiasa mendapat pengayoman dan pencerahan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Marilah kita jadikan negeri tercinta pemberian Tuhan ini sebagai tempat yang lebih membahagiakan semua orang, melalui PERSAUDARAAN UMAT MANUSIA.